Kota Tropis

Politisasi Jalan Mengabaikan Estetika Kota

April 22, 2008 · 1 Comment

Sepanjang jalan di kota Semarang sekarang lagi ramai spanduk dan poster kampanye. Masing-masing tim sukses berusaha keras memilih tempat-tempat strategis untuk memasang alat kampanye. Banyaknya spanduk dan baliho calon gubernur maupun wakilnya yang akan maju dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah ini secara tidak langsung mengisyaratkan adanya kegiatan “kampanye terselubung”. Minimal upaya mensosialisasikan calon yang akan ikut meramaikan pesta demokrasi.

Semarang sebagai ibukota propinsi tidak luput dari sasaran kegiatan promosi cagub dan cawagub. Hampir di setiap titik strategis terpasang spanduk cagub. Ada yang terang-terangan minta dukungan, namun ada pula yang masih “malu-malu”. Sekedar memasang gambar dengan gagasan dan konsep pembangunan Jawa Tengah. Hal ini secara tidak langsung pemasangan iklan itu merupakan bentuk kampanye.

Keep reading →

→ 1 CommentCategories: kota kita

Fenomena Generasi Kafe

April 22, 2008 · 2 Comments

Bagi masyarakat modern, singgah di kafe sudah menjadi keharusan dan kebiasaan. Untuk sekedar bersantai atau mencari variasi hiburan ditengah rutinitas yang padat, duduk sebentar dan minum secangkir kopi menjadi kenikmatan tersendiri. Berbincang dengan relasi terasa lebih rileks dan hangat.  Kini banyak orang kantoran yang memilih mengadakan meeting dengan relasi bisnis ditempat ini. Karena tidak terlalu formal dan cukup representatif  sehingga suasana keakraban akan lebih terasa jika dibanding dengan meeting dikantor.

Keberadaan kafe di Semarang tumbuh bagai jamur dimusim hujan. Warung makan atau restoran yang menyediakan minuman kopi memang banyak, tetapi jelas bukan sekadar secangkir kopi yang dicari. Coba kita tengok kafe yang bertebaran di lingkungan kampus sampai mall dan hotel berbintang. Hadirnya kafe menjawab kebutuhan akan sebuah ruang yang bisa digunakan untuk bertemu kawan sembari berbincang “ngalor-ngidul” cukup ditemani secangkir minuman favorit dalam suasana yang nyaman.

Keep reading →

→ 2 CommentsCategories: seputar semarang

Menyelamatkan Jalan Kaligawe

March 10, 2008 · No Comments

Mengapa jalan Kaligawe? Di sepanjang jalan ini, terdapat fasilitas transportasi Terminal Induk Terboyo, Rumah Sakit, Perguruan Tinggi dan puluhan perusahaan besar beroperasi, untuk mendukung investasi di kota Semarang khususnya. Di samping itu, Kaligawe merupakan jalan yang sangat vital karena menghubungkan Semarang dengan kota-kota di sepanjang Pantura ke arah Jawa Timur.  Di sepanjang Jalan Kaligawe telah terjadi aglomerasi spontan di Semarang, terutama sepanjang jalur regional berupa kegiatan komersial. Sering terjadi migrasi keluar-masuk yang kontras pada waktu sibuk yaitu saat masuk dan keluar tempat kerja, terutama para pekerja dari Semarang,Demak, Kudus, dan sekitarnya. Ternyata ribuan orang yang menggantungkan nasib pada penggal jalan Kaligawe ini. Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang jalan merupakan ”jantung” dan “urat nadi” ekonomi Kota Semarang. Keep reading →

→ No CommentsCategories: kota kita

Pasar Imlek, Mendongkrak Pesona Pecinan

February 5, 2008 · 4 Comments


Menjelang Tahun Baru Imlek 2559, kawasan pecinan Semarang sudah mulai marak dan meriah dengan pernak-pernik Imlek. Para pedagang di sekitar Pecinan, bukan saja menjual aneka hiasan atau perangkat khas Imlek yang bernuansa merah, tetapi juga menghias tokonya dengan berbagai hiasan sehingga suasana Pecinan sangat terasa.
Kawasan pecinan Semarang pada siang hari merupakan sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Ada pasar Gang Baru, ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai di waktu siang, tetapi cukup lengang di waktu malam. Keep reading →

→ 4 CommentsCategories: kota kita

Antisipasi Genangan Musim Hujan

January 3, 2008 · 4 Comments


Hujan mulai sering turun. Itu berarti musim hujan mulai dekat, bahkan sudah memasuki musimnya. Seperti biasa, hujan yang mengguyur kota Semarang sering jadi masalah, terutama di daerah-daerah tertentu. Untuk itu, pemerintah harus benar-benar menyiapkan diri mengantisipasi berbagai kemungkinan akibat hujan. Aparat pemda, hingga ke kelurahan harus segera dikerahkan. Jangan menunggu banjir baru ambil tindakan.
Banjir lokal yang akhir-akhir ini melanda sejumlah tempat di Semarang membuat sungai dan saluran air dipenuhi sampah. Berton-ton sampah menyebabkan sungai dan saluran air tak mampu mengatasi derasnya air di musim hujan sehingga banyak wilayah yang terendam. Tumpukan sampah dari berbagai macam material mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai. Kota yang langganan banjir ini, sudah berpengalaman betapa sengsaranya akibat dari “sapaan” banjir itu. Selain membuat perumahan terendam air, perkampungan terkepung genangan air, jalan-jalanpun di mana-mana macet, masalah gangguan kebersihan dan kesehatan lingkunganpun kian banyak akibat banjir.
Genangan besar air di kota yang sekitar 34 % tanahnya dataran rendah, memang daerah langganan banjir sejak jaman dulu. Kota yang berkembang di atas tanah bekas rawa-rawa, serta dialiri 6 sungai yang bermuara di Laut Jawa, sudah tercatat sebagai kota yang tidak bebas banjir seperti Tembang Jawa yang didendangkan oleh pesinden terkenal, Waljinah, Semarang Kaline Banjir. Keep reading →

→ 4 CommentsCategories: seputar semarang

Pesona Sunset ”Manado Tua”

January 3, 2008 · 2 Comments


Secara psikologis ada kesan luar biasa ketika kami yang bertugas menjadi surveyor untuk mendampingi staff Kementerian Perumahan Rakyat mulai menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional ‘Sam Ratulangi’ Manado. Apakah itu? Pemandangan alamnya yang indah, pohon kelapa berderet beribu-ribu seperti barisan tentara yang siap berperang. Hijau nian! Tak perlu guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisu itu. Kami berdua sejenak tertegun karena sama-sama pertama kali tiba dibumi nyiur melambai. Apalagi kalau yang datang itu surveyor yang pasti akan menjumpai medan berat menantang untuk ditaklukkan sekaligus berpetualang.
Keluar dari lokasi parkir Bandar Udara, kita dihadapkan dengan lingkungan bersih, tertata rapi, jalan yang baik dan beberapa menit kemudian, pandangan kita tertuju pada monumen Adipura Kencana, suatu monumen peringatan terhadap keberhasilan dalam klasifikasi kota bersih di Indonesia.
Kesempatan yang pertama ini tidak kami sia siakan saat singgah di kota Manado, sebuah kota yang menarik di teluk ujung utara pulau Sulawesi. Sore itu udara terasa sejuk karena sejak tiba siang hari langit kota Manado selalu diselimuti awan yang menggelayut. Setelah melepas lelah di hotel, sorenya kami mencoba menuju ke Boulevard Manado (jantung kota) dan langsung menuju ke pantai Manado untuk menikmati matahari terbenam dengan latar pulau Manado Tua. Pulau Manado Tua merupakan pulau utama dari sekelompok pulau di teluk Manado. Keep reading →

→ 2 CommentsCategories: wisata

Pelajaran Mahal Minimnya Ruang Bermain

December 14, 2007 · 1 Comment


Suasana kegembiraan para mahasiswi Fakultas Pendidikan Taman Kanak-Kanak IKIP Veteran Semarang yang bermain dengan penuh canda di Taman Bermain Wonderia Semarang berubah dengan duka. Terdapat lima belas orang, diantaranya 9 korban mengalami retak tulang belakang akibat wahana plane tower yang jatuh dari ketinggian 3-4 m (Kompas, 16/11/2007). Dari peristiwa ini timbul pertanyaan, masih adakah ruang untuk bermain yang aman di kota ini?
Kurangnya ruang bermain bagi anak di kota Semarang ini, dapat dilihat pada hari Minggu atau hari libur. Dimana setiap hari Minggu kawasan Simpang Lima sangat padat oleh lautan manusia yang berebut untuk mencari ruang bermain, berolahraga ataupun berbelanja. Anak anak terpaksa bermain di tempat bermain khusus dan tidak menggunakan tempat bermain di ruang terbuka yang merupakan sebuah ruang publik yang nyaman, karena memang tidak ada lagi ruang terbuka untuk bermain. Sering kita lihat banyak anak-anak bermain bola di jalanan beraspal, yang membahayakan nyawa mereka. Keep reading →

→ 1 CommentCategories: forum kompas

Masjid Terapung Diatas Danau

November 19, 2007 · 1 Comment


Jam menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat, ketika rombongan kami yang terdiri dari para mahasiswa tiba disebuah ruang terbuka seperti alun-alun di Jawa yang dinamakan dataran Putra. Agenda pertama kami hari itu adalah mengunjungi Masjid Putra dan Putrajaya Holding Company. Rasa penasaran langsung menyergap begitu melihat kemegahan Masjid Putra yang berada di sebelah barat dataran dengan kubah yang berwarna merah muda sangat menawan. Belum sampai rasa penasaran itu hilang, saya terkaget-kaget melihat banyak sekali turis asing yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek baru saja keluar dari pintu gerbang masjid.
Semua itu terjawab ketika rombongan kami tiba dipintu gerbang masjid yang cukup megah. Semua orang tanpa kecuali baik muslim dan non muslim dapat menikmati keindahan kawasan masjid putra tetapi harus berpakaian yang menutup aurat. Bagi yang non muslim tidak usah takut karena di gerbang ini terdapat penyewaan baju jubah dilengkapi dengan kerudung bagi wanita untuk dapat masuk kawasan masjid Putra.
Kesan monumental langsung menyapa bagi siapa saja yang memasuki kompleks masjid Putra ini. Masjid ini merupakan sebuah masjid yang dirancang dengan menggabungkan ciri–ciri arsitektur modern dan tradisional. Masjid yang terlihat mengapung diatas danau menjadi lambang kemegahan dan landmark bagi kota baru Putrajaya. Masjid ini mempunyai segala ciri khas arsitektur modern tanpa mengabaikan unsur-unsur Islam mulai dari bentuk sampai ornamennya dan budaya masyarakat setempat. Nama masjid Putra diambil sebagai penghormatan terhadap Perdana Menteri Pertama Malaysia Tuanku Abdul Rahman Putra Al Haj.
Keep reading →

→ 1 CommentCategories: wisata

Jam Kota, Bukan Sekedar Elemen Estetis Kota

October 23, 2007 · No Comments

Jam atau arloji merupakan salah satu benda penting sebagai penunjuk waktu. Tempo dulu, arloji termasuk benda mewah sehingga yang memiliki hanya orang-orang tertentu. Mengingat jam atau arloji itu sangat dibutuhkan masyarakat maka pemerintah Belanda pernah mendirikan jam kota di dekat Pasar Johar yang sekarang sudah hilang tergusur trotoar pasar Ja’ik. Saat ini kita sering menjumpai jam kota yang didirikan pihak swasta di beberapa penggal jalan protokol. Jam kota dapat kita jumpai diantaranya di Pertigaan Kaliwiru, Perempatan Metro Peterongan, sudut Taman Diponegoro, sekitar Taman Menteri Supeno, taman di jalan Sudirman dan banyak lagi.
Tetapi alangkah sedihnya, saat ini apabila kita berkendara dan menjumpai jam kota banyak yang mati dan tidak berfungsi. Rasa kecewa bertambah lagi ketika jam kota yang mahal ini tidak ada yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan rutin dan perbaikannya. Padahal sebenarnya kehadiran jam kota yang tersebar di jalan-jalan kota Semarang ini dimaksudkan untuk mengingatkan waktu kepada warga Semarang.
Keep reading →

→ No CommentsCategories: kota kita

Pemkot, manager Real Estate

July 27, 2007 · No Comments

Keberhasilan pengembangan suatu kawasan oleh pihak swasta selalu dibayangi oleh ketidaksiapan atau ketidakmampuan pemerintah mengantisipasi dampak-dampak yang mungkin terjadi, misalnya kemacetan dan ketidakteraturan. Sebagian besar proyek konstruksi yang dikembangkan di Semarang atas adalah proyek pengembangan perumahan, sisanya adalah pembangunan mal, ruko dan perkantoran. Namun, tidak terlihat adanya pembangunan infrastruktur yang mendukung, misalnya pelebaran jalan atau penambahan jembatan.
Padahal dengan logika sederhana saja, jika suatu kawasan bertambah penghuninya, tentu volume arus lalu lintas pasti bertambah, untuk itu daya dukung ruas jalan juga harus ditambah. Kalau tidak, tentu akan timbul kesemrawutan dan kemacetan sehingga merugikan warga. Sudah terjadi di Semarang bagian Selatan, ketika kita akan menuju kawasan perumahan idaman yang rapi dan asri, selalu diawali dengan susah payah untuk menembus kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Hal ini telah menunjukkan bahwa tidak adanya kesamaan tujuan dan langkah antara pengembang dan pemerintah setempat yang mempunyai tanggung jawab dan wewenang menyediakan prasarana wilayahnya.
Booming Perumahan
Ketika kita menyimak perkembangan permukiman di kawasan Samarang Selatan, suatu kawasan yang sebenarnya ada dua magnet perkembangan permukiman disini, yaitu Banyumanik dan Tembalang. Dengan potensi yang berada didaerah perbukitan, di sini ada beberapa perumahan yang dikembangkan sekitar tahun 1990-an sampai sekarang, antara lain Bukit Sari, Bukit Agung, Srondol Bumi Indah, Tembalang Asri, dan masih banyak lagi. Kini, perumahan-perumahan ini ada yang masih dikembangkan terus dan sebagian sudah tidak dikembangkan lagi karena keterbatasan lahan.
Booming penjualan properti di Semarang Selatan ini dipicu terjadinya rob dan banjir yang dimulai pada awal tahun 2000-an. Saat itu banyak penduduk perumahan elite di daerah Tanah Mas dan sebagainya mulai berpikir untuk “mengungsi” ke kawasan bebas banjir, pilihan jatuh antara lain di Semarang Selatan. Kawasan seluas ribuan hektar yang masih mempunyai keunggulan: hawa asri dan sejuk, dekat dari keramaian, dan bebas banjir.
Hingga saat ini developer masih mengincar kawasan ini sehingga muncul perumahan generasi berikutnya yang saat ini dalam tahap pembangunan, antara lain Tembalang Regency, Graha Estetika, Bukit Hijau, sampai Taman Diponegoro yang pencapaian dari pusat kota sangat mudah dengan jalan bebas hambatan (tol).
Jika membandingkan peran pemerintah dan pengembang dalam mengelola kawasan, terlihat ada perbedaan yang mencolok. Pengembang rupanya lebih jago dalam menata wilayahnya dibandingkan dengan pemerintah kota (pemkot). Pengembang sangat menjaga kenyamanan, keamanan, dan berusaha memenuhi kebutuhan warganya dengan fasilitas yang memadai, sebut saja mulai dari pintu gerbang, kita sudah merasakan layanan para pengembang berupa taman dan pepohonan yang rindang dengan disambut ramah oleh anggota satuan pengamanan. Jalan aspal dan trotoar lebar, didukung pula rambu-rambu dan lampu jalan yang cukup. Tidak ada sampah berceceran dan pedagang kaki lima yang membuka tenda sembarangan. Tapi, Anda tidak akan susah mendapatkan jajanan kaki lima karena developer telah meyediakan kawasan khusus yang semua tertata rapi.
Namun, citra yang sangat berbeda muncul ketika Anda masuk wilayah Semarang pinggiran mulai dari Ngaliyan, Kedung Mundu sampai daerah Semarang Timur. Jika masuk ke jalan Majapahit di pagi maupun sore hari, Anda akan disambut kemacetan dan kesemrawutan khas persimpangan lampu lalu lintas. Angkot nyerobot lampu merah dan ngetem pada saat lampu hijau. Ojek berkerumun di bahu jalan, warung makanan berjejer tidak beraturan. Tidak ada trotoar untuk pejalan kaki, bahkan hingga mendekati ruas jantung kota, di depan kantor kelurahan dan di depan sekolah-sekolah pun Anda tidak akan menemukan trotoar (pedestrian). Padahal arus lalu lintas cukup padat sepanjang hari.
Di Jalan Kedung Mundu dan Fatmawati misalnya, Anda akan disuguhi kemacetan yang sebenarnya tidak perlu karena alasan klasik: keluar masuk parkir, putaran arus lalu lintas dan angkutan kota berhenti sembarangan, khususnya di depan pasar dan pusat keramaian. Diperparah lagi, sepanjang jalan ini Anda tidak akan menemukan halte dan juga pos polisi.
Dari gambaran di atas sangat jelas perbedaan mencolok dalam perlakuan pemerintah dan pengembang dalam mengelola kawasan. Seharusnya pemerintah mengakui kekurangannya dan merangkul para pengembang untuk berbagi pengalaman membangun kota. Dan kemudian sedikit demi sedikit menata kawasan dengan tujuan meningkatkan pelayanan bagi warganya.
Jika terkendala masalah dana, pemerintah bisa menggandeng swasta, misalnya dalam penataan kawasan persimpangan jalan dengan cara menjadikannya sebagai kawasan komersial city walk misalnya. Menggandeng swasta untuk menyediakan angkutan masal yang nyaman dan terjangkau. Sehingga jalanan tidak penuh dengan kendaraan pribadi sehingga akan memberi kenyamanan bagi orang untuk bisa leluasa berpindah moda transportasi dan juga bisa berbelanja.
Dengan ini diharapkan dapat menyelesaikan sebagian masalah dan sekaligus memberikan peluang bisnis baru yang juga bisa meningkatkan pendapatan bagi kas daerah. Sampai kapan daerah pinggiran tertinggal dengan kawasan perumahan elit di Semarang Selatan dan sampai kapan pula kemacetan dapat diurai? Untuk menjawab, tidak ada salahnya penguasa segera belajar kepada pengusaha dalam mengelola wilayah dan memberikan pelayanan bagi warganya. Hingga nantinya pemerintah berperan juga sebagai manajer ”real estate” bagi wilayahnya.

Penulis :
Sukawi
Pengajar di Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang

dimuat di : Seputar Semarang, Juli 2007

→ No CommentsCategories: seputar semarang